Apakah sang istri akan bertemu kembali dengan suaminya di surga?

APAKAH SANG ISTRI AKAN BERTEMU KEMBALI DENGAN
SUAMINYA DI SURGA..??
Ustadz kondang di Bandung, bp. Athian Ali, pernah menyampaikan dalam satu kesempatan
ceramahnya, sering pertanyaan ini disampaikan oleh ibu-ibu majelis taklim :”Apakah saya bisa
kembali bertemu dan hidup bersama suami saya di surga nanti..??”, sambil tertawa meledek
pak ustadz lalu melanjutkan bahwa sudah puluhan tahun dia menjadi ustadz, belum pernah
sekalipun ada pertanyaan yang sama datang dari bapak-bapak. Tentu saja hal ini kemudian
mengundang ketawa para pendengarnya, terutama para bapak-bapak yang hanya bisa
nyengir. Pertanyaan ini juga berkaitan dengan ‘serangan-serangan’ yang dilakukan oleh
netters Kristen di forum ini :”Ketika laki-laki Muslim disediakan 72 bidadari di surga, lalu
wanitanya bisa apa..??, apa cuma bengong melihat kaum laki-lakinya ‘berpesta-pora’..??.
Terdapat kesamaan antara pertanyaan yang diajukan oleh ibu-ibu majelis taklim tersebut
dengan apa yang digugat oleh netters Kristen, sekalipun dengan sudut-pandang yang
berbeda. Persamaannya adalah : keduanya sama-sama menilai kondisi yang ada di akherat
berdasarkan apa yang mereka alami di dunia, sedangkan perbedaannya, bagi ibu-ibu majelis
taklim, pertanyaan didasari oleh kecintaan mereka kepada suami-suami mereka, sedangkan
pertanyaan dari netters Kristen berdasarkan sikap dengki dan sinis terhadap ajaran Islam.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa hubungan antar manusia di akherat kelak berbeda dengan apa
yang ada di dunia ini :
[23:101] Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka
pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
Di dunia ini kita harus menjalani kehidupan dengan ikatan yang saling kait-berkait dengan
individu lainnya, kita terlahir dari rahim seorang ibu yang mengandung karena dibuahi oleh
seorang ayah, maka otomatis kita sudah terlahir mempunyai orang-tua, lalu dari hubungan
anak dan orang-tua tersebut muncul hak dan kewajiban yang ditetapkan oleh ajaran agama.
Demikian pula ketika kita beranjak dewasa dan sudah cukup umur, kita lalu menikah, maka
hubungan pernikahan tersebut membuat kita terkait dengan individu lain yang juga
memunculkan adanya hak dan kewajiban yang diatur oleh ajaran agama. Hubungan tersebut
diciptakan Tuhan dengan dibungkus oleh perasaan : antara cinta dan benci, terpaksa dan
sukarela, suka dan tidak suka, semuanya berproses silih berganti yang menjadi dasar adanya
dinamika peradaban manusia. Lalu disaat Tuhan membangkitkan semua manusia diakherat
untuk diminta pertanggung-jawabannya terhadap apa yang dilakukan mereka sehubungan
dengan hak dan kewajiban dunia tersebut, maka semua ikatan termasuk perasaan yang
melandasinya akan dihapus. Jangan anda kira ketika anda sebagai seorang ayah/ibu yang
sedang dituntut atas segala perbuatan anda di dunia, lalu anak-anak anda akan melakukan
pembelaan karena ‘tidak tega’ melihat anda diadili, demikian pula sebaliknya. Semua individu
akan mempertanggung-jawabkan diri mereka sendiri :
[6:94] Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami
ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami
karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu
anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah
(pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap
(sebagai sekutu Allah).
Bukan cuma manusia lain yang dulunya punya hubungan nasab dengan kita, bahkan sesuatu
yang kita jadikan sandaran kita di dunia juga tidak bisa berbuat apa-apa, sandaran tersebut
bisa berbentuk : Tuhan yang lain, atasan, penguasa, guru, kiyai, pendeta, dll, semuanya
menghadap Allah mengurus diri sendiri. Bahkan bisa saja terjadi, seorang anak yang di dunia
telah kita terlantarkan, atau seorang istri yang tidak pernah kita didik untuk patuh dan taat
kepada Allah, bersaksi terhadap segala kezaliman kita tersebut, dan kesaksian mereka akan
menyeret kita masuk neraka.
[16:111] (Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan
bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka
tidak dianiaya (dirugikan).
Bagaimanakan cara kita menggambarkan perasaan dan ikatan kita satu sama lain nantinya di
akherat..?? apakah kita bisa membayangkan perasaan kita terhadap anak kita yang saat ini
kita sayangi, atau suami/istri yang kita kasihi, ketika nanti dikaherat semua perasaan tersebut
sudah dihapus..??. Sebenarnya apa yang diinformasikan oleh Al-Qur’an ini bisa kita jelaskan
melalui akal sehat kita. Kalaulah perasaan yang melandasi hubungan kita satu sama lain di
dunia masih berlaku di akherat kelak, maka seorang ayah/ibu yang masuk surga tidak akan
merasa nyaman dan tenteram disana ketika ternyata anaknya bernasib sial masuk neraka,
demikian pula sebaliknya, bagaimana mungkin seorang istri yang sangat mencintai suaminya
‘sampai ke pojok surga’ bisa hidup bahagia ketika mengetahui ternyata si suami yang
didambakan dijebloskan di neraka..??. Maka keputusan Allah untuk menghilangkan hubungan
nasab dan perasaan yang melandasinya di akherat tersebut merupakan suatu keniscayaan
dan bisa diterima akal sehat kita, karena memang demikianlah seharusnya. Allah menjelaskan
bagaimana perasaan manusia nanti di surga :
[7:43] Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka;
[15:47] Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang
mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.
Tidak ada lagi perasaan tersinggung, cemburu, sakit hati terhadap perilaku penghuni surga
yang lain.
Al-Qur’an menyuruh kita untuk berpikir soal ini dengan cara memperbandingkannya dengan
kehidupan kita di dunia :
[56:60] Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan
dapat dikalahkan, [56:61] untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu
(dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu
ketahui. [56:62] Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka
mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?
Ayat tersebut menginformasikan bahwa bagaimana persisnya keadaan kita di akherat kelak
merupakan suatu yang tidak bisa kita bayangkan karena belum pernah ada bandingannya di
dunia ini. Ibarat kita menyodorkan kalkulator kepada masyarakat primitif, mereka tentu saja
punya alat untuk melakukan penghitungan seperti batu dan ranting kayu, lalu ketika diberikan
kalkulator untuk melakukan penghitungan, maka pastilah mereka akan kebingungan karena
buat kaum primitif, kalkulator merupakan benda ‘yang tidak pernah terbayangkan’
sebelumnya, sekalipun kalkulator merupakan penyempurnaan dari sarana berhitung yang ada
pada mereka. Demikian juga dengan manusia, saat ini kita punya tubuh dan pranata/sistem
yang kita kenal dalam menjalani kehidupan, apakah kita mampu membayangkan bagaimana
persisnya bentuk tubuh dan sistem kehidupan yang merupakan penyempurnaan dari apa
yang kita miliki saat ini..?? Namun secara cerdas, ayat Al-Qur’an tersebut menggiring kita
untuk memikirkannya, ketika Allah menyatakan ‘Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui
penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran’, artinya Allah
menyuruh kita untuk melihat perumpamaannya. Kita bisa membayangkan kalau seandainya
kita dilahirkan kembali ke dunia, memulai lagi proses kelahiran dari rahim seorang wanita,
lahir, menjadi bayi dan tumbuh dewasa, apakah kita akan berusaha mengulangi kembali
kehidupan kita yang dahulu..?? apakah kita akan mencari-cari istri yang kita cintai pada
kehidupan terdahulu..?? apakah kita akan berusaha kembali mengumpulkan anak-anak yang
kita sayangi dulu..?? Apakah kita akan ‘dibakar api cemburu’ ketika tahu istri kita dahulu yang
telah menitis kepada sosok yang lain ternyata menemukan jodohnya yang lain pula, atau
marah-marah melihat anak kita di kehidupan terdahulu ternyata menitis menjadi anak orang
lain..?? Anda juga bisa memakai perumpamaan ini untuk periode sebaliknya, jika kehidupan
anda saat ini adalah titisan dari hidup anda sebelumnya, apakah saat ini anda sedang
mencari-cari dimana istri anda dulu..?? atau berusaha menemukan ayah-ibu anda dahulu..??
Tentu saja tidak demikian, kita akan berproses sesuai jalur kehidupan yang sudah ditentukan,
mencari jodoh sesuai takdir kita, melahirkan anak yang berbeda. Demikianlah desain hidup
kita dahulu, maka itu juga yang berlaku bagi kita pada kehidupan selanjutnya.
Perintah untuk berpikir melalui perumpamaan tersebut sebenarnya sudah bisa memberikan
gambaran bagaimana nantinya kita di akherat terkait hubungan antara manusia, bahwa kita
akan menjalani kehidupan yang baru sebagai bentuk penyempurnaan kehidupan kita di
dunia..
Jadi bagi ibu-ibu majelis taklim, jangan khawatir terhadap suami anda nantinya, apakah masih
bersama anda atau sudah ‘dibajak’ oleh para bidadari. Yang sebaiknya anda lakukan adalah
mendo’akan suami dan anak-anak agar mereka selalu dilindungi Allah dan mendapat kebaikan
kelak di akherat, memastikan apakah suami dan anak-anak selalu bisa menjalankan apa yang
diperintah oleh Allah, disamping tetap berusaha untuk memperbaiki diri terus-menerus,
menjadi istri yang salehah. Suami dan keluarga adalah sarana anda untuk berbakti kepada
Allah, menjadi ‘medan tempur’ yang bisa anda manfaatkan untuk meraup pahala sebanyak-
banyaknya. Mencintai suami sepenuh jiwa dan raga tentu saja merupakan sikap yang mulia,
namun hal tersebut tetap harus dikaitkan dengan kecintaan anda kepada Allah semata. Bagi
netters Kristen yang sinis dan dengki, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjawab dan
menghapus penyakit yang ada dalam hati anda dalam melihat kebenaran dan keagungan
ajaran Islam, bahwa pertanyaan yang selama ini anda ajukan, hanya datang dari kebekuan
hati sehingga tidak mampu lagi menuntun pikiran anda melihat persoalan secara jernih.

Sumber answeringkristen.wordpress.com/apakah-sang-istri-akan-bertemu-kembali-dengan-suaminya-di-surga/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s