Beda motivasi dan inspirasi

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Kita tahu bahwa motivasi dan inspirasi
merupakan dua kosa kata yang sangat
populer. Lebih dari itu saya menyadari
bahwa mungkin saja ada sebagian dari
anda yang merasa bahwa tidak ada
perlunya mencari-cari perbedaan diantara
kedua hal itu. Tetapi, bukankah kita sering
dikelirukan oleh pemahaman yang
campur aduk? Padahal, para ahli NLP
tidak bosan-bosannya menekankan
pentingnya menempatkan diri dalam
proses berbahasa. Bahkan, di negara-
negara yang penerapannya sudah lebih
maju sedang seru himbauan untuk
sungguh-sungguh mengembalikan huruf ’L’ pada tempatnya. Sebab, disatu sisi kita percaya bahwa
’Lingusitic’ merupakan faktor kunci dalam aplikasi disiplin ilmu itu. Namun disisi lain sering kali kita
abaikan. Sekarang, saya ingin mengajak anda untuk menelisik karakteristik dari Motivasi dan
Inspirasi. Anda tidak keberatan, bukan?
Beberapa waktu yang lalu saya diminta seorang sahabat untuk menjadi narasumber dalam sebuah
seminar untuk umum. Sejauh yang saya ingat, saya sudah mengatakan kepadanya bahwa saya
tidak merasa nyaman jika disebut sebagai ’motivator’. Padahal, lazimnya itu merupakan sebuah
sebutan yang memiliki nilai jual. Paling tidak, masyarakat umum sudah sama-sama mafhum
tentang apa yang dimaksud dengan predikat itu. Apalagi dijaman seperti sekarang ini banyak orang
yang gemar mencari motivasi. Makanya program-program motivasi selalu mendapat tempat di hati
mereka. Dan sebutan itu tentu sangat cocok untuk disandingkan dalam materi promosinya.
Ndilalah, ketika teman saya itu mengirimkan soft file brosurnya, saya tidak langsung membukanya
karena saya merasa semuanya sudah berjalan sesuai dengan yang semestinya. Namun, ketika
beberapa hari kemudian saya membuka emailnya; ternyata teman saya menempelkan embel-
embel ’motivator’ dibelakang nama saya.
Sekarang saya sudah benar-benar mengacaukan pikiran anda. Tadi saya mengatakan tentang NLP
yang mengajak kita untuk mengoptimalkan kemampuan berbahasa yang baik dalam proses
komunikasi dan interaksi dengan orang lain. Tetapi, sekarang saya melanggar pakem dalam NLP
itu sendiri yang disebut sebagai pacing and leading. Keengganan saya untuk menggunakan
predikat itu jelas sekali menyalahi konsep pacing and leading. Sebab dalam konsep itu, kita
dianjurkan untuk ’menyesuaikan diri dengan bahasa audience (pacing), baru kemudian kita
memasukkan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan (leading). Sedangkan saya dari awal sudah
menjauhkan diri dari terminologi yang jelas-jelas paling mudah untuk dipahami oleh masyarakat
umum.
Sekarang, ijinkan saya untuk mengajak anda berpijak kepada kenyataan. Dari mana anda
memperoleh motivasi? Anda benar. Bahwa motivasi bisa bersumber dari luar, dan dari dalam diri
kita sendiri. Faktanya memang demikian. Tetapi, motivasi yang datang dari sumber manakah yang
sifatnya lestari; yang datang dari luar? Atau dari dalam diri anda sendiri?
Baiklah, untuk membantu menegaskan jawaban anda, saya akan menyampaikan sebuah ilustrasi.
Ketika anda memasuki sebuah ruang pelatihan motivasi. Diruangan itu, seseorang yang anda
kagumi, hormati, sukai, dan idolakan berbicara diatas pentas. Anda mendengarkan setiap kata
yang beliau ucapkan. Anda tertawa ketika beliau menceritakan sebuah lelucon humoris. Anda ikut
mencucurkan air mata ketika kata-katanya yang menyentuh hati membawa anda kepada
kesadaran yang tinggi. Dan seketika itu pula anda bertekad; saya akan berubah. Kemudian, pada
sore harinya; anda melangkah pergi meninggalkan ruang pelatihan itu. Keesokan harinya anda
kembali tenggelam dalam rutinitas sebagaimana biasanya. Seminggu kemudian. Sebulan telah
berjalan. Setahun. Waktu terus berputar. Masih adakah tekad dalam hati Anda itu?
Suatu ketika, anda melihat motivator yang anda idolakan itu di sebuah mall. Dari caranya
memperlakukan kasir supermarket, anda merasa bahwa tindakannya bertolak belakang dengan
kata-katanya. Atau, tiba-tiba saja anda mendengar kalau idola anda itu gagal mempertahankan
bahtera rumah tangganya. Atau, digunjingkan terlibat dalam sebuah tindakan asusila. Bahkan,
mungkin anda mendengarnya meninggal dengan dugaan bunuh diri. Semua yang anda dengar
dan saksikan kemudian seolah menjadi anti klimaks dari seluruh kekaguman anda kepada seorang
manusia. Sekarang, tubuh anda berperang dengan dirinya sendiri. Karena mata, telinga, rasa, dan
setiap indera memiliki penilaiannya yang berbeda-beda tentang seseorang yang anda kira bisa
memotivasi anda. Karena motivasi, sangat ditentukan oleh keteladan orang yang
menyampaikannya.
Pada kesempatan lain. Anda menyadari bahwa Anda tidak bisa berharap banyak dari pekerjaan
anda saat ini. Dengan posisi dan jabatan itu, anda tahu bahwa pendapatan anda tidak akan lagi
bisa menutupi kebutuhan hidup keluarga. Anda tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya
anak-anak anda jika nasib anda tidak berubah. Lalu, anda bertekad untuk bekerja sebaik-baiknya.
Agar perusahaan melihat anda sebagai aset yang layak untuk dikembangkan dan diberi
tanggungjawab yang lebih besar. Kemudian, Anda terus mengejar mimpi itu dengan sikap pantang
menyerah. Dan akhirnya anda mendapatkan sebuah perbaikan. Ketika anda merasakan nikmatnya
memperoleh perbaikan itu, anda kembali terdorong untuk menapak lebih tinggi. Bekerja lebih
baik. Lebih rajin. Lebih ulet. Dan lebih produktif lagi. Anda mendapatkan hadiah lagi. Anda
menapak lebih tinggi lagi. Begitu seterusnya. Sampai-sampai anda hampir tidak menyadari kapan
harus berhenti. Karena sekarang, secara otomatis tubuh anda memotivasi dirinya sendiri.
Kedua cerita diatas itu hanya sekedar ilustrasi belaka. Namun, semoga itu bisa menegaskan bahwa
tak seorang pun bisa menjadi motivator sejati bagi kita. Selain diri kita sendiri. Benar bahwa orang
lain bisa memotivasi kita. Namun, kita juga mesti secara jujur melihat fakta bahwa orang itupun
sama perlu motivasinya dengan kita. Jika Anda memerlukan motivasi. Saya juga sama. Begitu pula
dengan mereka. Bagaimana mungkin orang yang membutuhkan motivasi seperti kita bisa
memberikan motivasi sejati kepada orang lain? Sama seperti orang yang tidak punya duit tidak
mungkin memberikan duit kepada orang lain. Seorang teman berkilah; motivasi itu beda dengan
duit. Karena memotivasi orang tidak selalu harus dengan duit. Teman saya benar. Tetapi argumen
itu tidak bisa meruntuhkan fakta bahwa motivasi yang datang dari diri sendiri itu lebih lestari.
Faktanya, banyak orang yang kecewa karena terlampau banyak berharap kepada orang lain.
Sekarang ijinkan saya untuk membuka sebuah fakta lain. Ketika saya melihat teman saya yang
berhasil dalam karirnya, saya terinspirasi oleh keberhasilannya. Ketika saya bertemu dengan
seseorang yang sukses dalam bisnisnya, saya terinspirasi oleh kisah suksesnya. Ketika saya
bertemu dengan penerima undian besar saya terinspirasi untuk berani mencoba sesuatu meski
diliputi oleh ketidakpastian. Ketika melihat seseorang mengendarai Mercedes Benz, saya
terinspirasi untuk mengimpikan suatu saat kelak memiliki kemampuan membeli mobil seperti itu.
Dan, ketika saya menemukan bahwa orang-orang yang menginspirasi saya itu jatuh; penilaian
saya kepada pribadi mereka sama sekali tidak berubah. Sementara kisah-kisahnya yang telah
menginspirasi saya, tetap tinggal didalam hati sanubari saya. Karena inspirasi, tidak membeda-
bedakan dari siapa datangnya.
Ketika saya melihat seekor anjing buang air sembarangan dihalaman rumah orang; saya
terinspirasi untuk menghindari tindakan yang merugikan orang lain. Ketika saya melihat 2 tetangga
yang rumahnya bersebelahan bertengkar, saya terinspirasi untuk menjadi tetangga yang baik bagi
penghuni rumah disebelah kiri dan kanan. Ketika saya mendengar seorang koruptor diadili, saya
terinspirasi untuk menjadi pegawai yang jujur. Ketika saya mendengar seseorang bercerai saya
berdoa; Tuhan, ijinkan saya untuk terus mencintai istri yang telah Engkau pilihkan. Dan semoga
dia memiliki hasrat yang sama. Agar kami bisa terus bergandeng tangan selamanya. Ketika saya
melihat maling digebuki warga, saya terinspirasi untuk menghindari perbuatan serupa. Ketika
pesawat televisi menayangkan rekaman penggerebekan kamar-kamar hotel yang digunakan
pasangan-pasangan bukan muhrim, saya terinspirasi untuk berusaha menjaga kehormatan.
Karena, inspirasi tidak membeda-bedakan antara yang baik dan yang buruk.
Sekarang, saya bisa melihat sebuah tirai tipis. Yang menjadi garis pemisah antara motivasi dengan
inspirasi. Ternyata, begitu banyak perbedaan diantara keduanya. Sehingga jika kita bisa mengenali
perbedaan-perbedaan itu, kita akan memahami; mengapa motivasi kita sering naik dan turun.
Mengapa motivasi kita, sering berbunyi nyaring diruang-ruang training, tapi membisu dalam
realitas hidup. Mari sekali lagi kita perhatikan beberapa perbedaan antara motivasi dan inspirasi.
Pertama, motivasi sangat ditentukan oleh siapa yang mengatakannya. Anda jarang termotivasi
oleh orang yang gagal. Sebaliknya, kegagalan orang lain sering memberi kita inspirasi untuk
menjadi orang yang berhasil.
Kedua, motivasi sangat ditentukan oleh keteladanan orang yang mengatakannya. Anda jarang bisa
terus termotivasi oleh seseorang yang sudah ketahuan ’sifat aslinya’. Sebaliknya, ’sifat asli’
seseorang sering memberi kita inspirasi untuk terus belajar agar lama kelamaan kita bisa menjadi
manusia yang mampu menyelaraskan antara perbuatan dan perkataan.
Ketiga, motivasi sering dimonopoli oleh bangsa manusia. Anda jarang termotivasi oleh comberan,
kotoran cicak, ataupun bau pesing toilet di terminal-terminal kendaraan. Anda juga jarang
termotivasi oleh kemacetan lalu lintas, tagihan listrik, ataupun kenaikan harga barang-barang
keperluan rumah tangga. Dan Anda, pasti tidak termotivasi oleh lembar laporan potongan pajak
jika belum benar-benar merasakan apa manfaatnya. Sebaliknya, semua itu bisa menginspirasi kita.
Untuk mencari jalan agar kehidupan kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. Terutama karena kita
yakin. Bahwa ada kehidupan lain. Setelah kematian.

sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s