Rumput tetangga selalu lebih hijau daripada rumput sendiri

“Rumput tetangga lebih hijau”. Ungkapan yang berarti bahwa orang lain memiliki
kenikmatan atau kebaikan yang lebih dari pada diri kita. Bagaimana sikap kita ketika
menghadapi kenyataan tersebut? Dengki, iri, atau ikut senang?
Mudah-mudahan tidak ada penyikapan negatif. Berikut ini kemungkinan dan penyikapan
yang tepat saat melihat rumput tetangga lebih hijau…
– Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi
rumput tetangga terlihat lebih hijau karena kita memandangnya dari jauh.
Jarak sering menipu pandangan. Bulan yang terlihat indah dengan sinarnya yang kuning
keemasan di malam hari, sebenarnya bila dilihat lebih dekat, adalah sebuah padang tandus
yang berlubang-lubang oleh meteor. Sebuah bukit yang sebenarnya agak gundul, bila dilihat
dari jauh tetap saja terlihat biru.
Semuanya jelas bila dilihat lebih dekat. Bahwa mungkin orang lain terlihat lebih bahagia dari
kita, tetapi ketika kita mengetahui dari dekat kehidupannya, bisa jadi kita akan mengkoreksi
pandangan kita, dan tersadarlah bahwa kita memiliki kehidupan yang lebih bahagia.
– Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi
rumput tetangga terlihat lebih hijau karena ketamakan dan kurangnya rasa syukur
pada diri kita.
Rasulullah pernah bersabda “Sekiranya Anak Adam mempunyai sebuah lembah emas ,
niscaya dia akan meminta tambah satu lagi. Sekiranya dia telah mempunyai dua lembah
emas, niscaya dia akan meminta lagi. Tidak akan puas kantong mulut seseorang kecuali jika
sudah penuh dengan tanah” (dalam Jami’ ash-Shaghir karya Suyuthi)
Inilah mental yang menghadirkan fatamorgana. Rasa tak pernah puas menyebabkan kita
melihat segalanya lebih indah dan selalu ingin memiliki. Introspeksilah, dan semoga kita
terhindar dari sifat buruk ini.
– Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi
rumput tetangga terlihat lebih hijau karena mental pecundang yang ada pada diri
kita.
Mental pecundang ini berlawanan dengan mental juara. Seseorang yang memiliki mental
pecundang, ia punya rasa rendah diri yang berlebihan. Atau inferiority complex. Selalu
under estimate terhadap dirinya.
Dalam persaingan, orang yang memiliki mental pecundang, akan tersingkir. Ia akan selalu
melihat kompetitornya lebih baik darinya, lalu diikuti dengan rasa pesimis. Kalah sebelum
bertanding. Seharusnya tidak begitu sifat orang mukmin.
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali
Imran 139)
– Boleh saja rumput tetangga lebih hijau dari kita, Memangnya kenapa?
Sifat cuek hadir pada saat yang tepat dalam urusan seperti ini. Jangan sifat cuek hanya ada
pada kritik atas kesalahan kita saja. Atau seperti istilah begini: “gw sih asik asik aja… Selama
dia gak nyenggol gw.”
– Rumput tetangga terlihat lebih hijau karena rumputnya dicat oleh pemiliknya.
Kadang kala ada orang yang seleranya melompat dari kemampuannya. Seleranya berada di
kebutuhan tersier, sedangkan kemampuannya berada di kebutuhan primer. Dan orang
tersebut memaksakan diri meraih apa yang ia selerakan. Sehingga terlihat lah ia parlente,
dan mewah. Keadaannya palsu. Hijau rumputnya adalah karena cat, bukan hijau alami.
Jadi, jangan buru-buru takjub lah terhadap orang yang kehidupannya terlihat mewah.
– Alhamdulillah, rumput tetangga lebih hijau. Saya ikut senang.
Rasulullah bersabda, “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya
seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari-Muslim) Maka melihat saudaranya seiman
memiliki nikmat yang lebih, seharusnya sikap seorang mukmin seperti apa yang telah Allah
ceritakan dalam Al-Qur’an tentang kaum Anshor, “ …Dan mereka (Anshor) tiada menaruh
keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin);
dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun
mereka dalam kesusahan…” (QS 59 : 9)
– Rumput tetangga yang lebih hijau memberi motivasi bagi diri saya!!
Maka telah hadir energi positif, alih-alih energi negative berupa kedengkian. Motivasi seperti
ini adalah bahan bakar yang baik untuk kehidupan.
– Rumput tetangga memang lebih hijau, tapi dibanding tetangga yang lain,
alhamdulillah rumput saya masih lebih hijau…
Dalam urusan akhirat, kita seharusnya melihat ke atas, tetapi dalam urusan dunia, lihat lah
ke bawah. Kalau kesyukuran itu hadir karena perbandingan, maka seharusnya kita lebih
banyak bersyukur kepada Allah, karena masih banyak yang tidak seberuntung kita.
– Biarkan saja rumput tetangga lebih hijau, karena orientasi saya adalah surga dan
keridhoan Allah, bukan rumput.
Ya, seharusnya orientasi seorang mukmin adalah surga dan keridhoan Allah. Allah
berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan
di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS 3 : 14)
Maka seharusnya seorang mukmin sibuk menghijaukan rumput surganya daripada
mengurusi hijaunya rumput tetangganya.
– Asyik.. rumput tetangga lebih hijau. Bisa buat makan si Shaun, domba kesayangan
saya.
Waaa… parah niiih…..

sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s